ILMU DAN AGAMA

A. PENDAHULUAN

Filsafat adalah usaha untuk memahami dan mengerti dunia dalam hal makna dan nilai – nilainya. Bidang filsafat sangat luas dan mencakup secara keseluruahan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran. Filsafat berusaha untuk menjawab pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat hidup serta apa yang menjadi tujuan hidupnya. Filsafat berusaha untuk menyatukan hasil – hasil ilmu dan pemahaman tentang moral, estetika, dan agama.

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian Agama

Tidak mudah bagi kita untuk menentukan pengertian agama, karena agama bersifat bathiniah, subjektif, dan individualitas. Kalau kita membicarakan agama akan dipengaruhi oleh pandangan pribadi dan juga pandangan agama yang kita anut.

Beberapa pengertian agama, antara lain :

Istilah agama ditinjau dari tata bahasa dalam kamus bahasa Indonesia :

ü  Agama berarti sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaikan dan kewajiban – kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan itu.

ü  Agama menuntut pengetahuan untuk beribadah yang merupakan hubungan manusia dengan Tuhan.

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “aagama” yang berarti tradisi. Pada konsep yang sama dalam bahasa latin disebut “religio” yang berarti mengikat kembali yang bermaksud mengikat dirinya kepada tuhan.

  1. Secara liguistik, din berarti ketaatan dan balasan. Penulis kitab Magayisul Lughah mengatakan bahwa asal dan akar kata ini berarti penghambaan dan kehinaan (tunduk). Sedangkan Raghib dalam Mufradai-nya mengatakan bahwa agama berarti ketaatan dan balasan. Oleh karena itu, Syariat dinamakan din karena lazim ditaati.
  2. Menurut para pemikir Barat definisi agama antara lain, Agama adalah insting, aksi, dan kondisi spiritual yang “menjangkiti” sekelompok orang tertentu dalam kesendirian mereka di hadapatn Tuhan (William James adalah seorang filsuf sekaligus psikolog berkebangsaan amerika. Ia hidup pada tahun 1842 – 1910)

 Jadi, Agama adalah keseluruhan pendapat tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku, serta baik buruknya yang berlandaskan wahyu. Wahyu adalah penerangan Tuhan secara istimewa kepada manusia secara langsung atau tidak langsung. Agama merupakan kumpulan apa yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi dan Rasul melalui wahyu untuk merealisasikan kesempurnaan manusia kepada Tuhan.

Aksiologi Agama antara lain :

  1. Agama bisa diargumentasikan. Yakni, secara logis bisa dibela, karena unsur – unsur dan ajarannya bisa diterima oleh akal sehat.
  2. Agama memberikan makna dalam kehidupan. Yakni, manusia terjaga dari keputusasaan, dan menghilangkan asumsi tak bermaknanya kehidupan.
  3. Agama merupakan pemberi harapan.
  4. Agama diharapkan bisa meluhurkan segala tindakan dalam masyarakat sosial.

Agama mengajarkan rasa tanggung jawab kepada manusia.

2. Hubungan Filsafat dan Agama

Hubungan antara filsafat dan agama dalam sejarah kadang-kadang dekat dan baik, dan kadang-kadang jauh dan buruk. Ada kalanya para agamawan merintis perkembangan filsafat. Ada kalanya pula orang beragama merasa terancam oleh pemikiran para filosof yang kritis dan tajam. Para filosof sendiri kadang-kadang memberi kesan sombong, sok tahu, meremehkan wahyu dan iman sederhana umat. Kadang-kadang juga terjadi bentrokan, di mana filosof menjadi korban kepicikan dan kemunafikan orang-orang yang mengatas-namakan agama.

  1. Socrates dipaksa minum racun atas tuduhan atheisme padahal ia justru berusaha mengantar kaum muda kota Athena kepada penghayatan keagamaan yang lebih mendalam.
  2. Filsafat Ibn Rusyd dianggap menyeleweng dari ajaran-ajaran Islam, ia ditangkap, diasingkan dan meninggal dalam pembuangan.
  3. Abelard (1079-1142) yang mencoba mendamaikan iman dan pengetahuan mengalami berbagai penganiayaan.
  4. Thomas Aquinas (1225-1274), filosof dan teolog terbesar Abad Pertengahan, dituduh kafir karena memakai pendekatan Aristoteles (yang diterima para filosof Abad Pertengahan dari Ibn Sina dan Ibn Rusyd).
  5. Giordano Bruno dibakar pada tahun 1600 di tengah kota Roma. Sedangkan di zaman moderen tidak jarang seluruh pemikiran filsafat sejak dari Auflklarung dikutuk sebagai anti agama dan atheis.

Pada akhir abad ke-20, situasi mulai jauh berubah. Baik dari pihak filsafat maupun dari pihak agama. Filsafat makin menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan manusia paling dasar tentang asal-usul yang sebenarnya, tentang makna kebahagiaan, tentang jalan kebahagiaan, tentang tanggung jawab dasar manusia, tentang makna kehidupan, tentang apakah hidup ini berdasarkan sebuah harapan fundamental atau sebenarnya tanpa arti, paling-paling dapat dirumuskan serta dibersihkan dari kerancuan-kerancuan, tetapi tidak dapat dijawab. Keterbukaan filsafat, termasuk banyak filosof Marxis, terhadap agama belum pernah sebesar dewasa ini.

Dengan demikian, dialog antara filsafat dan agama justru akan membawa keuntungan bagi keduabelah pihak. Filsafat sekurang-kurangnya dapat menyumbangkan empat pelayanan pada agama :

Pertama. Menjelaskan makna wahyu Tuhan sampai mendekati makna yang sesungguhnya,

Salah satu masalah yang dihadapi oleh setiap agama wahyu adalah masalah interpretasi. Maksudnya, teks wahyu yang merupakan Firman Allah selalu dan dengan sendirinya terumus dalam bahasa dari dunia. Akan tetapi segenap makna dan arti bahasa manusia tidak pernah seratus persen pasti. Itulah sebabnya kita begitu sering mengalami apa yang disebut salah paham. Hal itu juga berlaku bagi bahasa wahana wahyu. Hampir pada setiap kalimat ada kemungkinan salah tafsir. Oleh karena itu para penganut agama yang sama pun sering berbeda dalam pahamnya tentang isi dan arti wahyu. Dengan kata lain, kita tidak pernah seratus persen merasa pasti bahwa pengertian kita tentang maksud Allah yang terungkap dalam teks wahyu memang tepat, memang itulah maksud Allah.

Oleh sebab itu, setiap agama wahyu mempunyai cara untuk menangani masalah itu. Agama Islam, misalnya, mengenai ijma’ dan qias. Nah, dalam usaha manusia seperti itu, untuk memahami wahyu Allah secara tepat, untuk mencapai kata sepakat tentang arti salah satu bagian wahyu, filsafat dapat saja membantu. Karena jelas bahwa jawaban atas pertanyaan itu harus diberikan dengan memakai nalar (pertanyaan tentang arti wahyu tidak dapat dipecahkan dengan mencari jawabannya dalam wahyu saja, karena dengan demikian pertanyaan yang sama akan muncul kembali, dan seterusnya). Karena filsafat adalah seni pemakaian nalar secara tepat dan bertanggungjawab, filsafat dapat membantu agama dalam memastikan arti wahyunya.

Kedua, Mensistematisasikan, membetulkan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu,

secara spesifik, filsafat selalu dan sudah memberikan pelayanan itu kepada ilmu yang mencoba mensistematisasikan, membetulkan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu, yaitu ilmu teologi. Maka secara tradisional (dengan sangat tidak disenangi oleh para filosof) filsafat disebut ancilla theologiae (abdi teologi). Teologi dengan sendirinya memerlukan paham-paham dan metode-metode tertentu, dan paham-paham serta metode-metode itu dengan sendirinya diambil dari filsafat. Misalnya, masalah penentuan Allah dan kebebasan manusia (masalah kehendak bebas) hanya dapat dibahas dengan memakai cara berpikir filsafat. Hal yang sama juga berlaku dalam masalah “theodicea“, pertanyaan tentang bagaimana Allah yang sekaligus Mahabaik dan Mahakuasa, dapat membiarkan penderitaan dan dosa berlangsung (padahal ia tentu dapat mencegahnya). Begitu pula Christologi (teologi kristiani tentang Yesus Kristus) mempergunakan paham-paham filsafat Yunani dalam usahanya mempersatukan kepercayaan pada hakekat nabi Yesus Kristus dengan kepercayaan bahwa Allah hanyalah satu.

Ketiga, filsafat dapat membantu agama dalam menghadapi masalah-masalah baru,

Artinya masalah-masalah yang pada waktu wahyu diturunkan belum ada dan tidak dibicarakan secara langsung dalam wahyu. Itu terutama relevan dalam bidang moralitas. Misalnya masalah bayi tabung atau pencangkokan ginjal. Bagaimana orang mengambil sikap terhadap dua kemungkinan itu : Boleh atau tidak? Bagaimana dalam hal ini ia mendasarkan diri pada agamanya, padahal dalam Kitab Suci agamanya, dua masalah itu tak pernah dibahas? Jawabannya hanya dapat ditemukan dengan cara menerapkan prinsip-prinsip etika yang termuat dalam konteks lain dalam Kitab Suci pada masalah baru itu. Nah, dalam proses itu diperlukan pertimbangan filsafat moral.

Filsafat juga dapat membantu merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis yang menggugah agama, dengan mengacu pada hasil ilmu pengetahuan dan ideologi-ideologi masa kita, misalnya pada ajaran evolusi atau pada feminisme.

Pelayanan keempat yang dapat diberikan oleh filsafat kepada agama diberikan melalui fungsi kritisnya.

Salah satu tugas filsafat adalah kritik ideologi. Maksudnya adalah sebagai berikut. Masyarakat terutama masyarakat pasca tradisional, berada di bawah semburan segala macam pandangan, kepercayaan, agama, aliran, ideologi, dan keyakinan. Semua pandangan itu memiliki satu kesamaan : Mereka mengatakan kepada masyarakat bagaimana ia harus hidup, bersikap dan bertindak. Filsafat menganalisa claim-claim ideologi itu secara kritis, mempertanyakan dasarnya, memperlihatkan implikasinya, membuka kedok kepentingan yang barangkali ada di belakangnya.

Kritik ideologi itu dibutuhkan agama dalam dua arah. Pertama terhadap pandangan-pandangan saingan, terutama pandangan-pandangan yang mau merusak sikap jujur, takwa dan bertanggungjawab. Fisafat tidak sekedar mengutuk apa yang tidak sesuai dengan pandangan kita sendiri, melainkan mempergunakan argumentasi rasional. Agama sebaiknya menghadapi ideologi-ideologi saingan tidak secara dogmatis belaka, jadi hanya karena berpendapat lain, melainkan berdasarkan argumentasi yang obyektif dan juga dapat dimengerti orang luar.

Arah kedua menyangkut agamanya sendiri. Filsafat dapat mempertanyakan, apakah sesuatu yang oleh penganut agama dikatakan sebagai termuat dalam wahyu Allah, memang termasuk wahyu itu. Jadi, filsafat dapat menjadi alat untuk membebaskan ajaran agama dari unsur-unsur ideologis yang menuntut sesuatu yang sebenarnya tidak termuat dalam wahyu, melainkan hanya berdasarkan sebuah interpretasi subyektif. Maka filsafat membantu pembaharuan agama. Berhadapan dengan tantangan-tantangan zaman, agama tidak sekedar menyesuaikan dirinya, melainkan menggali jawabannya dengan berpaling kembali kepada apa yang sebenarnya diwahyukan oleh Allah.

HADIISTU ABII HURAIRAH RHADIALLLAHU ANHU. QAALA : QAALA RASUULULAHI S.A.W. “YA’TISSYAYTHAANU AHADAKUM FAYAQUULU  MAN KHALAQA KADZAA, MAN KHALAQA KADZAA, HATTA YAQUULA MAN KHALAQA RABBAKA?. FAIDZAA BALAGHAHU FALYASTA’IDZ BILLAHI WAL YANGTAHI”

Artinya: Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullahi SAW. Bersabda: “Setan datang pada tiap orang dan bertanya (berbisik): siapakah yang menjadikan ini? Siapakah yang menjadikan itu? Sehingga bertanya: siapakah yang menjadikan Tuhanmu? Apabila sampai disini, maka hendaklah membaca : A’udzu billahi minasy syaithanir rajiim, dan menghentikan suara bisikan itu (yakni tidak melayaninya). HR. Bukhari dan Muslim.

3. Hubungan Ilmu dan Agama

Seperti halnya dengan ilmu dan filsafat, agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan dengan segala aspeknya. Pengetahuan dan kebenaran agama yang berisikan kepercayaan dan nilai – nilai dalam kehidupan, dapat dijadikan sumber dalam menentukan tujuan dan pandangan hidup manusia, dan sampai kepada prilaku manusia itu sendiri.

Dalam agama sekurang – kurangnya ada empat ciri yang dapat kita kemukakan, yaitu :

  1. Adanya kepercayaan terhadap yang gaib, kudus, maha agung dan pencipta alam semesta (Tuhan).
  2. Melakukan hubungan dengan hal – hal diatas, dengan berbagai cara. Seperti dengan mengadakan acara – acara ritual, pemujaan, pengabdian, dan do’a.
  3. Adanya suatu ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap penganutnya.
  4. Menganut ajaran Islam, ajaran tersebut diturunkan oleh Tuhan tidak langsung kepada seluruh umat manusia, melainkan kepada Nabi – nabi dan Rasulnya. Maka menurut ajaran islam adayan rasul dan kitab suci merupakan ciri khas dari pada agama.

 Agama berbeda dengan sains dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi, walaupun kita dapat sepakat tidak ada definisi agama yang dapat diterima secara universal. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tinggi nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada objek yang ia sembah. Seorang yang religius merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang dia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan.

Wilayah ilmu berbeda dengan wilayah agama. Jangankan ilmu, akal saja tidak sanggup mengadili agama. Para ulama sekalipun, meski mereka meyakini kebenaran yang dianut tetapi tetap tidak berani mengklim kebenaran yang dianutnya, oleh karena itu mereka selalu menutup pendapatnya dengan kalimat “wallohu a’lamu bissawab”, bahwa hanya Allah-lah yang lebih tahu mana yang benar.

Agama berhubungan dengan Tuhan, ilmu berhubungan dengan alam, agama membersihkan hati, ilmu mencerdaskan otak, agama diterima dengan iman, ilmu diterima logika. Meski demikian, dalam sejarah manusia, ilmu dan agama selalu tarik menarik dan berinteraksi satu sama lain. Terkadang antara keduanya akur, bekerjasama atau sama – sama bekerja, terkadang saling menyerang dan menghakimi sebagai sesat, agama memandang sebagai kedunguan.

Sangat menarik bahwa Nabi Muhammad sendiri mengatakan bahwa, kemulian seorang mukmin itu diukur dari agamanya, kehormatannya diukur dari akalnya dan martabatnya diukur dari akhlaknya (karamul mu’mini dinuhu, wa muru’atuhu ‘aqluhu wa hasabuhu khuluquhu) H.R. Ibnu Hibban. Ketika Nabi ditanya tentang amal yang paling utama, hingga lima kali nabi tetap menjawab husn al khuluq, yakni akhlak yang baik yaitu sekuat mungkin jangan marah, (an la taghdlaba in istatha’ta) At – Tarhib jilid III, 405 – 406.

C. PENUTUP

Dari apa yang telah diuraikan diatas dapat disimpulkan :

  1. Sumber kebenaran ilmu dan filsafat adalah sama, keduanya dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran pengalaman dan intuisinya. Oleh karena itu disebut juga horizontal dan immanent. Sumber kebenaran agama adalah datangnya dari Allah di langit, karena itu disebut vertikal dan transendental.
  2. Pendekatan kebenaran ilmu pengetahuan dengan jalan riset, pengalaman, dan percobaan sebagai tolak ukur. Pendekatan kebenaran filsafat dengan jalan perenungan akal budi dan budi murni manusia secara radikal, tanpa pertolongan Allah. Pendekatan kebenaran agama dengan jalan berpatokan kepada wahyu Allah yang dimodifikasikan dalam kitab suci Taurat, Injil, dan Al-Quran.
  3. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama dan lewat pengkajian selanjutnya dapat meningkatkan atau menurunkan kepercayaan dan rasa tak percaya, ilmu pengetahuan mulai mengkaji dengan riset, pengalaman, dan percobaan untuk sampai kepada kebenaran yang faktual.
  4. Tujuan ilmu pengetahuan hanyalah bersifat teoritis demi ilmu pengetahuan dan umumnya. Tujuan filsafat adalah kecintaan kepada ilmu pengetahuan yang bijaksana dengan hasil kedamaian dan kepuasan jiwa yang sedalam – dalamnya. Tujuan agama kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan, keselamatan, keselarasan, keridhaan (keselamatan dalam istilahnya “salam” seperti ucapan Allah pada ahli surga di akhirat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s