Ontologi Pengetahuan

ONTOLOGI PENGETAHUAN

I.    PENDAHULUAN
A. Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58) memandang filsafat ilmu sebagai ”That philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual disciplines.” Filsafat ilmu, menurut Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metoda, konsep – konsep, dan pra-anggapan – pra-anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.
Conny Semiawan at al (1998 : 45) menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diidentifikasi karakteristik filsafat ilmu sebagai berikut :

  • Filsafat ilmu merupakan cabang dari filsafat.
  • Filsafat ilmu berusaha menelaah ilmu secara filosofis dari sudut pandang ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

    Objek filsafat ilmu

  • Objek material filsafat ilmu adalah ilmu
  • Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

II.    Ontologi
Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Istilah ontologi berasal dari Yunani, yaitu ta onta berarti “yang berada”, dan logos berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada.
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan  kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam Pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini?
Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama kenyataan yang berupa materi (kebendaan), dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada yakni realitas, realita adalah ke-rill-an, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah. Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang menurut Aristoteles merupakan the first philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Kata ontologi berasal dari kata “on” sama dengan being, dan “logos” sama dengan logic. Jadi, ontologi adalah the theory of being of being qua being (teori tentang kebaradaan sebagai keberadaan). Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat di katakan ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip – prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir – akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Cristian Wolff (1679 – 1775) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi.
Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang  membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi. Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara  khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.
Sehingga disimpulkan bahwa ontologi merupakan cabang filsafat yang menguak tentang objek apa yang akan di telaah ilmu. Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek itu dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?

III. Pengetahuan
“Kita melihat, mendengar, merasa, meraba, mencium, segala sesuatu, pengalaman panca indera ini melalui proses langsung kemudian menjadi pengetahuan. Pengetahuan adalah gejala tahunya secara bagian perbagian, seseorang baik bersumber dari dirinya sendiri maupun dari orang lain mengenai sesuatu dan dasar sesuatu itu.
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Ada dua jenis pengetahuan, menurut Prof. Sirajuddin Zar dalam “Filsafat Islam”, yaitu :

  1. Pengetahuan yang bukan berdasarkan usaha aktif manusia. Pengetahuan ini diperoleh manusia lewat wahyu Allah SWT. Manusia menerima kebenaran wahyu lewat keimanan dalam hatinya.
  2. Pengetahuan yang berdasarkan hasil usaha aktif manusia. Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan indra, yaitu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman sehari – hari, seperti api panas, air membasahi, es dingin, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang – barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan.
Pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan – pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat, cenderung kabur dan samar – samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cenderung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Sebab kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar berpikir seperti ini disebut penalaran.
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan melalui suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) apabila proses penarikannya dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir sahih.

IV.    ONTOLOGI PENGETAHUAN
Dari pengertian ontologi dan pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa ontologi pengetahuan adalah suatu ajaran tentang hakikat yang ada berdasarkan kepercayaan yang benar yang diperoleh dari informasi yang masuk akal ataupun common sense. Ontologi pengetahuan atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan – persoalan, seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan, dan lainnya. Dalam pandangan ontologi terdapat beberapa pandangan – pandangan pokok pemikiran, diantaranya :

1. Monoisme : Paham ini menganggap bahwa hakikat yang berasal dari kenyataan adalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik berupa materi maupun rohani. Paham ini terbagi menjadi dua aliran :

  • Materialisme, Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu – satunya fakta yang hanyalah materi, sedangkan jiwa atau ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.
  • Idealisme, Sebagai lawan dari materialisme yang dinamakan spritualisme. Idealisme berasal dari kata “Ideal” yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak terbentuk dan menempati ruang. Materi atau zat ini hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.

2. Dualisme : Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sembernya, yaitu hakikat materi dan ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Menurut aliran dualisme ini materi maupun ruh merupakan sama – sama hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Kedua macam hakikat tersebut masing – masing bebas dan berdiri sendiri, sama – sama azali dan abadi, hubungan keduanya menciptakan kehidupan di alam ini. Tokoh paham ini adalah Descater (1596 – 1650 SM) yang dianggap sebagai bapak Filosofi modern).

3. Pluralisme : Paham ini beranggapan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme tertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah Anaxagoras dan Empedcoles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api dan udara.
4. Nihilisme : Berasal dari bahasa Yunani yang berarti nothing atau tidak ada. Istilah nihilisme dekenal oleh Ivan Turgeniv dalam novelnya Fadhers an Children yang di tulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno, yaitu pandangan Grogias (483 – 360 SM) yang memberikan tiga propersi tentang realitas yaitu :

  • Pertama, tidak ada satupun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
  • Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak diketahui, ini disebabkan penginderaan itu tidak dapat di percaya, penginderaan itu sumber ilusi.
  • Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.

Selanjutnya dalam paham nihilisme ini menyatakan bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas  manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternatif positif. Dalam pandangan nihilisme, tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan berkreativitas.

5. Agnotisisme : Aliran agnotisme menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api, dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh inderanya maupun oleh pikirannya. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun ruhani, kata agnotisisme berasal dari bahasa Grick. Ignotos yang berarti tidak tahu (unknow), Gno artinya tahu (know). Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat dikenal.

Akal merupakan salah satu anugerah dari Allah SWT yang paling istimewa bagi manusia. Sifat akal adalah selalu ingin tahu terhadap segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki bukan dibawa sejak lahir, tetapi lewat sebuah proses berpikir dan mendapatkan pengalaman.

1. Objek Kajian Ontologi
Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, pencipta dan pengatur serta penentu alam semesta. Studi tentang yang ada, pada tataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.

Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kualitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi telaah monoisme, paralelisme, atau pluralisme. Bagi pendekatan kualitatif realitas akan tampil menjadi aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hilomorphisme.

a.    Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan dua tingkat abstraksi dalam ontologi, yaitu abstrasi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas suatu objek, abstraksi bentuk mendeskripsikan metafisik mengenai prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metafisik.
b.    Metafisika
Istilah metafisika berasal dari akar kata meta dan fisika. Meta berarti sesudah, selain, atau dibalik. Fisika berarti nyata atau alam fisik. Metafisika berarti sesudah dibalik yang nyata, dengan kata lain metafisika adalah cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan hal-hal dibelakang gejala – gejala yang nyata yang sangat mendasar yang berada diluar pengalaman manusia. Metafisika mengkaji segala sesuatu secara komprehensif. Menurut Asmoro Achmadi (2005 : 14), metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan (beyond nature). Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk pengalamannya yang dapat ditangkap oleh indera. Metafisika mempelajari manusia melampaui atau diluar fisik manusia dan gejala – gejala yang dialami manusia. Metafisika mempelajari siapa manusia, apa tujuannya, dari mana asal manusia, dan untuk apa hidup di dunia ini. Jadi metafisika mempelajari manusia jauh melampaui ruang dan waktu. Begitu juga pembahasan tentang kosmos maupun tuhan, yang dipelajari adalah hakikatnya, di luar dunia fenomenal (dunia gejala).
c.    Asumsi
Pendapat yang telah didukung oleh beberapa teori dan fakta yang dapat dibuktikan secara rasional, berkenaan dengan pengkajian konsep – konsep, pengadaian – pengadaian. Dengan demikian, filsafat ilmu erat kaitannya dengan pengkajian analisis konseptual dan bahasa yang digunakannya, dan juga dengan perluasan serta penyusunan cara – cara yang lebih ajeg dan lebih tepat untuk memperoleh pengetahuan.

2.    Teologi
Teologi juga merupakan bagian dari kajian ontologi. Istilah teologi memiliki pengertian yang luas dan beragam. Dalam Kamus Teologi, dijelaskan bahwa teologi dalam bahasa Yunani artinya pengetahuan mengenai Allah, yaitu usaha metodis untuk memahami serta menafsirkan kebenaran wahyu (Gerald O’Collins dan Edward G., 2001 : 314). Dalam bahasa latin, teologi diartikan ilmu yang mencari pemahaman, maksudnya dengan menggunakan sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan filsafat. Teologi selalu mencari dan tidak pernah sampai pada jawaban  terakhir dan pemahaman yang selesai.

Sedangkan yang dimaksud dengan teologi dalam ruang lingkup filsafat metafisika, menurut Sudarsono (2001 : 129) adalah filsafat ketuhanan ini mengkaji tentang keteraturan hubungan antara benda – benda alam sehingga orang meyakini adanya pencipta alam atau pengatur alam tersebut. Pemikiran tersebut muncul sejak dari para filosof Yunani, kemudian dilanjutkan oleh kaum Sophi dan masa Sokrates, juga filsafat pada abad pertengahan, terutama dengan hadirnya para filsososf Kristen, hingga perkembangan filsafat dewasa ini.

Pada zaman filsafat Yunani telah hadir beberapa abad sebelum masehi, ajaran filsafat tentang teologi ini telah muncul dan berkembang dengan pesat. Seorang filsosof yang bernama Xenophanes telah mengajarkan, bahwa tuhan itu tidak banyak, melainkan satu. Tuhan hanya satu yang hadir di antara dewa dan manusia, Tuhan tidak serupa dengan makhluknya, dan tidak pula berpikiran seperti mereka. Bagi Xenophanes, Tuhan yang satu itu tidak dijadikan, tidak bergerak, dan tidak berubah – ubah, dan ia mengisi seluruh alam. Ajaran Xenophanes ini besar sekali pengaruhnya dan telah mewarnai pemikiran berikutnya. Dalam hal ini dapat dilihat dalam filsafat Phytagoras (572 – 479 SM). Menurut keyakinan Phytagoras, manusia itu asalnya tuhan. Jiwa itu adalah penjelmaan dari pada Tuhan yang jatuh ke dunia karena berdosa. Jiwa akan kembali ke langit ke dalam lingkungan Tuhan bermula, apabila habis dicuci dosanya itu. Cara mencuci atau menghapuskan dosa itu dengan jalan hidup murni.

Filsosof lain yang mempunyai pandangan filsafat metafisika teologi adalah Thomas Aquinas (1225 – 1274). Menurut Aquinas,  manusia dapat mengenal tuhan melalui dukungan akal pikirannya. Dengan akal pikirannya, manusia dapat mengetahui bahwa tuhan itu ada dan sekaligus mengetahui sifat – sifatnya. Thomas Aquinas dalam Harun Hadiwijono, (2005 : 107 – 108) mengajukan lima bukti adanya Tuhan, yaitu sebagai berikut :

a.    Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama, yaitu Allah. Menurut Aquinas, apa yang bergerak tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Itulah Allah.

  1. Di dalam dunia yang diamati, seluruh isi yang ada di jagat raya ini dapat terlihat tertib dan berdaya guna
  2. Di alam semesta terdapat hal – hal yang mungkin ada dan tidak ada.
  3. Di antara segala yang ada terdapat hal – hal yang lebih atau kurang baik, atau lebih atau kurang benar, dan sebagainya.
  4. Kita menyaksikan bahwa segala sesuatu yang tidak berakal berbuat senantiasa dengan cara yang sama untuk mencapai hasil yang terbaik.

Pada abad 19, filsafat metafisika teologis ini juga mendapat perhatian yang serius, seperti yang dikembangkan oleh Auguste Comte (1798 – 1857). Comte menempatkan tahap teologis berada pada urutan pertama dalam teori evolusinya. Dalam tahap ini ditegaskan bahwa manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terakhir segala sesuatu. Jadi, manusia masih percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan atau pengenalan yang mutlak.

Begitu juga pada abad 20, pemikiran filsafat tentang teologis ini cukup menonjol, terutama dari Henri Bergson. Menurut Bergson, agama itu ada dua macam, agama statis, dan agama dinamis. Agama yang statis yang timbul karena hasil karya perkembangan pemikiran otak atau akal manusia. Di dalam perkembangan ini alam telah menciptakan kepada manusia kecakapan, dimana melalui akalnya manusia tahu bahwa ia harus mati. Juga karena akalnya manusia tahu bahwa ada rintangan – rintangan yang tidak terduga, yang merintangi usahanya untuk mencapai tujuannya. Demikianlah timbul agama sebagai alat bertahan terhadap segala sesuatu yang dapat menjadikan manusia berputus asa. Sedangkan agama yang dinamis, yang diberikan oleh intuisi. Dengan perantaraan agama ini manusia dapat berhubungan dengan asas yang lebih tinggi, yang lebih kuasa daripada dirinya dirinya sendiri.

Friedrich Nietzche (1844 – 1900) menyatakan bahwa konsep tentang Allah dalam agama Kristen adalah konsep yang paling buruk dan rusak dari seluruh konsep tentang Allah, karena Allah dianggap sebagai Allah bapak, Allah anak, dan Ibu. Allah dianggap sebagai Allah dari orang – orang yang lemah. Akhirnya, ia sampai pada kesimpulan yang menggemparkan, yaitu bahwa Allah sudah mati. Manusia hanya akan menjadi manusia super jika ia mampu menerima kenyataan atas kematian Allah itu. Dengan kematian Allah itu telah membebaskan manusia dari keadaan yang lemah, rendah hati, takluk, dan sebagainya.

V.    SIMPULAN

  1. Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
  2. Pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan – pengulangan.
  3. Ontologi Pengetahuan adalah suatu ajaran tentang hakikat yang ada berdasarkan kepercayaan yang benar  yang diperoleh dari informasi yang masuk akal ataupun common sense. Ontologi pengetahuan ini memiliki pandangan – pandangan pokok yaitu monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan Agnotisme.
  4. Teologi merupakan bagian dari kajian ontologi. Teologi dalam bahasa Yunani artinya pengetahuan mengenai Allah, yaitu usaha metodis untuk memahami serta menafsirkan kebenaran wahyu (Gerald O’Collins dan Edward G., 2001 : 314). Dalam bahasa latin, teologi diartikan ilmu yang mencari pemahaman, maksudnya dengan menggunakan sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan filsafat. Sehingga disimpulkan bahwa teologi merupakan pengetahuan tentang keteraturan hubungan antara benda – benda alam sehingga orang meyakini adanya pencipta yaitu Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s